TANGGAMUS — Setelah persoalan dugaan Korupsi biaya transport Puskesmas Wonosobo viral di platform media sosial Tiktok. Sekarang perhatian publik mengarah pada Dinas Kesehatan Tanggamus yang selama ini dianggap lalai dan melakukan pembiaran atas segala persoalan yang terjadi, sehingga menyebabkan potensi timbulnya kerugian negara yang cukup besar.
Bola panas dugaan Korupsi dana transport petugas Puskesmas Wonosobo ini mencuat kepermukaan ketika data serapan anggaran yang dilakukan pihak puskesmas mencatut jumlah kunjungan petugas yang mencapai 5.127 orang, dengan biaya yang dikeluarkan hingga Rp358.890.000.
Dengan angka sebanyak itu, sangat sulit bagi pihak Dinas Kesehatan Tanggamus tidak mengetahui atau menaruh curiga terhadap realisasi anggaran dimaksud. Sebab, dari informasi yang diterima media ini, jumlah pegawai yang ada di Puskesmas Wonosobo hanya berkisar 50 hingga 55 orang saja.
Dari data ini saja, sudah dapat terlihat dimana kejanggalannya, karena jika dilakukan perhitungan sederhana diketahui jika setiap pegawai disana akan mendapat jatah hingga ratusan kunjungan. Sebuah jumlah yang sulit direalisasikan jika menurut pada kemampuan manusia biasa.
Jadi sangat wajar jika publik yang tertarik mengikuti perkembangan kasus ini mulai berspekulasi soal sikap pasif dari pihak Dinas Kesehatan Tanggamus yang selama ini bungkam dan terkesan melakukan pembiaran hingga menyebabkan potensi kerugian negara yang cukup besar.
Bahkan dalam kesempatannya, Kepala Puskesmas (Kapus-red) Wonosobo, mengaku bingung dan menolak memberikan klarifikasi atas konfirmasi yang diajukan media ini. Dengan serta-merta sang kepala Puskesmas justru mempertanyakan sumber data yang diperoleh, padahal data diperoleh dari deretan angka dalam deskripsi kegiatan dokumen penggunaan anggaran tahun 2025 Puskesmas Wonosobo itu sendiri.
”Darimana sumber data yang di tulis. Saya nggak paham maksudnya. Ke Puskes aja, nanti saya jelaskan juknis kegiatan yang ada di Puskesmas,” demikian bunyi balasan dari Kepala Puskesmas Wonosobo, melalui pesan singkat WhatsApp.
Koordinator Wilayah Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GRAK) Lampung, Ropda Wita, menyebut jika sikap yang ditunjukan oleh Kepala Puskesmas Wonosobo, Tanggamus, merupakan hal yang wajar terhadap setiap orang yang diduga melakukan tindakan Korupsi, sebagai bentuk upaya penyelamatan diri dari kecaman publik.
”Bahkan setangkai ranting akan di raih jika orang itu mau tenggelam. Jadi sikap pura-pura tidak tahu dan tidak bersalah seperti itu sangat manusiawi. Bahkan mereka yang sudah duduk di bangku peradilan sekalipun masih berusaha menyelamatkan diri dengan mengaku tidak bersalah,” ujarnya.
Awak media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, bahkan ketika kontak WhatsApp Sekretaris Dinkes dihubungi belum mendapat jawaban. (Redaksi)
Korupsi Dana Transport Puskesmas Wonosobo Viral, Publik Sorot Dinkes
