MATA PENA LAMPUNG/TANGGAMUS — Drama Korupsi dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Wonosobo, tahun 2025 yang begitu merajalela mulai mengungkap sebuah dugaan baru yang mengarah pada kesan pembiaran yang dilakukan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tanggamus. Kasus ini menjadi sebuah tamparan keras bagi semangat jalan lurus yang digelorakan oleh kepala daerah disana. Kondisi demikian itu rupanya sejalan dengan pernyataan dari Ketua Komisi IV DPRD Tanggamus, Romzi Edy, soal buruknya tata kelola dana BOSP.
Beberapa waktu lalu, awak media ini sempat mengungkap bagaimana perjalanan mengurai skandal Korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SMP Negeri 1 Wonosobo itu dihadapkan dengan sikap sang kepala sekolah yang penuh lika-liku yang penuh dengan intrik dan sangat menguras energi.
Dimana setelah kasus dugaan Korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2025 SMP Negeri 1 Wonosobo, menguap kepermukaan, terlebih dengan potensi nilai kerugian didalamnya yang mencapai Rp519.125.300, berkali-kali awak media coba sambangi satuan pendidikan itu untuk melakukan konfirmasi dengan kepala sekolah, namun batang hidung yang bersangkutan tak kunjung kelihatan. Bahkan staff maupun dewan guru disana mengaku tidak mengetahui keberadaan sang kepala sekolah. Setiap upaya konfirmasi yang coba dilakukan selalu menemui jalan buntu.
Yang menjadi sangat mengejutkan adalah bagaimana sikap pasif dari jajaran Disdikbud Tanggamus yang terkesan melakukan pembiaran terhadap tindakan koruptif yang sudah sangat merajalela di lingkungan SMP Negeri 1 Wonosobo.
Bahkan, kendati Ketua Komisi IV DPRD Tanggamus, Romzi Edy, sudah buka suara soal buruknya tata kelola dana BOSP di lingkungan satuan pendidikan, Disdikbud Tanggamus, masih belum juga sadar dan segera melakukan pembenahan. Justru ada indikasi yang mengarah pada pemeliharaan bagi oknum kepala sekolah korup.
Menyikapi hal tersebut, Koordinator GRAK Lampung, Chaidir, mengaku sempat enggan berkomentar dan malas meladeni sikap Kepala SMP Negeri 1 Wonosobo yang dianggap tidak konsisten dan selalu berubah-ubah.
”Sepertinya ada yang harus diperiksa kesehatannya terlebih dahulu, karena antara ucapan dan sikap yang ditunjukan tidak pernah sinkron dan saling bertolak belakang. Dia menolak menyampaikan kebenaran namun sudah mengklaim kebenaran. Bicara soal etika tapi menunjukan sikap tidak beretika. Ada beberapa kondisi dimana setiap individu tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan hukum. Seharusnya anda paham sebabnya,” ujar Chaidir singkat. (Redaksi)
