LAMPUNG BARAT — Proyek pemeliharaan berkala jalan Raden Intan (Liwa) Lampung Barat tahun 2025 yang menghabiskan pagu anggaran hingga Rp2.100.000.000 milik Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, dikerjakan secara serampangan serta terkesan asal jadi. Janji Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, soal ketersediaan infrastrukur jalan berkualitas ternyata cuma omon-omon alias omong kosong.
Dari penelusuran yang dilakukan media ini, diketahui jika proses penghamparan aspal yang dilakukan pihak rekanan dalam pemeliharaan berkala jalan Raden Intan Liwa, dikerjakan ditengah guyuran hujan deras ditambah proses pemadatan juga dilakukan tidak secara optimal. Sehingga, pekerjaan yang dilaksanakan itu terkesan serampangan dan asal jadi.
Dengan kondisi yang demikian itu, Kordinator Gerakan Rakyat Anti Korupsi Lampung, Chaidir, mempersoalkan masalah anggaran pengawasan hingga sebesar Rp300.000.000 yang dikeluarkan pihak BMBK Provinsi Lampung. “Diluar pagu anggaran pemeliharaan, masih ada biaya pengawasan yang nilainya ratusan juta Rupiah. Jika pekerjaan yang dihasilkan kualitasnya rendah dan pelaksanaan dilapangan secara serampangan, apakah pihak dinas (BMBK-red) masih bisa menyalahkan pihak rekanan atas kondisi yang terjadi,” ujarnya.
Dikatakan Chaidir, sudah dari zaman ke zaman pemeliharaan ruas jalan Raden Intan Liwa dilakukan, namun hanya selang beberapa bulan dari pekerjaan selesai dilakukan, kondisi jalan kembali mengalami kerusakan karena proses pemeliharaan yang dilakukan tidak pernah optimal dan hanya sekadarnya saja. “Padahal nilai proyeknya miliaran, ditambah biaya pengawasan ratusan juta Rupiah, tapi kenapa hasilnya amburadul dan akhirnya tetap saja masyarakat Lampung Barat sendiri yang dirugikan,” urainya.
Diteruskan Chaidir, dengan kondisi pemeliharaan berkala jalan Raden Intan Liwa yang demikian buruknya itu, komitmen Gubernur Lampung soal ketersediaan fasilitas infrastruktur jalan yang baik saat masa kampanye sepertinya hanya sebatas omon-omon alias omong kosong. “Kita maklum saja lah, Lampung Barat inikan daerah paling ujung dan jauh dari pantauan, sehingga wajar kalo terkesan proyek yang ada jadi lahan bancakan. Apalagi yang dahulu berjanji sekarang sudah jadi, wajar dan maklum kalo apa yang pernah dikatakan tidak terbukti,” tandasnya.
Bagi Chaidir, di masa kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal ini, masyarakat tidak usah berharap terlalu banyak soal perubahan yang akan dilakukan kalau ternyata pola dan sistem pelaksanaan proyek pemerintah masih menggunakan gaya lama yang penuh selubung muslihat dan kolusi yang berujung korupsi. “Mau siapa saja gubernur nya, kalau pola dan sistem masih pakai gaya lama hasilnya akan sama saja. Apalagi jajaran pejabat di Dinas BMBK Provinsi Lampung sangat cuek dan abai terhadap kritik publik karena merasa sudah mendapat jaminan dalam menduduki jabatan mereka,” timpalnya.
Hingga naskah ini dilansir, awak media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Dinas BMBK Provinsi Lampung dan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Lampung. (Redaksi)
Proyek Pemeliharaan Jalan Dikerjakan Serampangan, Janji Gubernur Soal Infrastrukur Berkualitas Cuma Omon-Omon .
